Desa Bedanten

Kec. Bungah
Kab. Gresik - Jawa Timur

Artikel

Sejarah Desa Bedanten

KKN UNAIR

23 Januari 2026

384 Kali dibuka

Desa Bedanten merupakan desa tua yang telah ada sejak abad ke-13 dan memiliki perjalanan sejarah panjang yang membentuk identitas masyarakatnya. Perkembangan desa ini melalui masa pengaruh kepercayaan Hindu-Budha, proses masuk dan berkembangnya Islam tidak terlepas dari peran penting ulama salah satunya dipelopori oleh Mbah Sayyid Husaini, hingga kehidupan masyarakat pada masa kolonial dan kemerdekaan. Jejak sejarah tersebut tidak hanya tersimpan dalam tradisi lisan dan makam tokoh-tokoh penting, tetapi juga di Museum Desa Bedanten sebagai upaya menjaga memori kolektif desa. Narasi sejarah ini disajikan dalam tiga bab utama: masa klasik, masa kolonial, dan masa kemerdekaan.

 

BAB I Masa Klasik (Awal Keberadaan Bedanten dan Peralihan ke Islam)

Menurut penuturan Pak Gofar pengurus makam dan Museum desa Bedanten. Keberadaan Desa Bedanten pertama kali diketahui melalui sebuah prasasti yang memuat nama Madanten. Dalam prasasti tersebut tercatat 42 desa, salah satunya Madanten yang diyakini sebagai Bedanten saat ini. Berdasarkan prasasti tersebut, Desa Bedanten telah ada sejak tahun 1358.

IMG_20260122_105607_483_(1)_(1)Sementara itu, sejarah masuknya Islam di Bedanten belum memiliki catatan tertulis yang pasti. Informasi mengenai awal penyebaran Islam hanya diketahui melalui cerita lisan masyarakat, yang menyebut kedatangan seorang tokoh bernama Mbah Sayyid. Tidak diketahui secara jelas pada tahun berapa Islam mulai berkembang di Bedanten, namun menurut pak Ghofar selaku tokoh masyarakat sekaligus pengurus makam dan Museum mengatakan islam sudah ada sebelum kedatangan mbah sayyid yaitu pada tahun 1082, namun hanya beberapa yang memeluk agama islam hingga Mbah Sayyid masuk dalam daftar tokoh yang menyebarluaskan Islam, namun bagaimana proses penyebarannya dilakukan juga belum diketahui.

Pada masa tersebut, letak Bedanten diperkirakan masih berada di wilayah pesisir laut. Jika dibandingkan dengan kondisi geografis sekarang, posisi Bedanten diperkirakan berada sekitar 10 kilometer dari garis pantai saat ini, menunjukkan adanya perubahan alam dan garis pantai dari waktu ke waktu. Menurut Pak Miftah selaku ketua pengurus museum sekaligus makam di Bedanten, hal tersebut diperkirakan karena terdapat endapan sedimen dari bengawan solo, terdapat beberapa daerah yang kegeser dan beberapa yang menjadi daratan akibat sedimen dari bengawan solo. Pada masa ini, masyarakat Bedanten menganut agama kepercayaan kuno, sejalan dengan kondisi keagamaan Jawa pada masa Majapahit.

IMG_20260122_105656_763_(1)

Meskipun pada tahun 1358 Bedanten masih berada dalam pengaruh Hindu-Buddha, berdasarkan cerita turun-temurun keberadaan umat Islam di Jawa sebenarnya telah ada lebih awal, seperti di Leran pada tahun 1082. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sudah masuk ke Jawa sebelum Bedanten menjadi wilayah mayoritas Muslim. Namun, Islam belum berkembang secara luas di Bedanten pada masa tersebut.

Peralihan agama di Bedanten sudah terjadi sebelum kedatangan Mbah Sayyid Husaini, beberapa tokoh sebelumnya juga datang ke Bedanten menggunakan kapal melalui jalur laut. Setelah kedatangan  Mbah Sayyid Husaini, masyarakat Bedanten berangsur-angsur memperdalam syariat dengan tanpa membedakan tingkatan. Namun, waktu pasti proses islamisasi ini belum diketahui, karena keterbatasan sumber tertulis dan belum ditemukannya silsilah lengkap Mbah Sayyid Husaini. Hingga kini, informasi mengenai biografi beliau masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

WhatsApp_Image_2026-01-22_at_18-49-24 

BAB II Masa Kolonial (Bedanten sebagai Wilayah Strategis dan Jejak Tokoh)

Pada masa kolonial, Desa Bedanten berada di bawah penguasaan Belanda dan memiliki peran penting sebagai wilayah strategis. Bedanten dijadikan pusat aktivitas ekonomi, khususnya sebagai perusahaan kayu dan tempat transit kapal yang digunakan untuk pengiriman barang antar pulau. Keberadaan pelabuhan ini menjadikan Bedanten bagian dari jaringan perdagangan kolonial.

WhatsApp_Image_2026-01-22_at_18-53-34 Berdasarkan catatan sejarah Belanda yang kini tersimpan di museum, pelabuhan Bedanten dan kantor bea cukai zaman belanda resmi ditutup pada tahun 1886. Pada tahun tersebut, alur Sungai Bengawan Solo diarahkan ke utara, sehingga aktivitas pelayaran di wilayah Bedanten dihentikan. Sebelum penutupan resmi, wilayah ini masih menyimpan berbagai jejak aktivitas kolonial, seperti jembatan dan sisa-sisa infrastruktur, yang menjadi bukti adanya pelabuhan dan kantor pos pada masa itu.

WhatsApp_Image_2026-01-22_at_18-53-34_(1) Dalam konteks tokoh, Mbah Sayyid Husaini juga dikaitkan dengan masa kolonial. Beliau diduga sebagai salah satu laskar Pangeran Diponegoro. Setelah Pangeran Diponegoro mengalami kekalahan dan ditangkap, Laskar yang terdiri dari para sayyid menyebar dan menetap di beberapa wilayah, termasuk Jombang dan Bedanten, hingga akhirnya satu diantaranya menetap dan melanjutkan hidupnya di Bedanten.

Hal ini diperkuat oleh kisah yang diceritakan oleh Pak Gofar yang merupakan pengurus makam sekaligus museum, bahwa pernah ada orang dari Solo yang mencari Mbah Sayyid Husaini dengan menggunakan perahu. Orang tersebut kemudian diberitahukan bahwa Mbah Sayyid Husaini telah wafat dan ditunjukkan lokasi makamnya. Mbah Sayyid Husaini diperkirakan meninggal pada tahun 1800-anpasca perang Pangeran Diponegoro.

WhatsApp_Image_2026-01-22_at_18-49-24_(1)

Selain Mbah Sayyid Husaini, terdapat makam makam lain salah satunya mbah pelopor penyebar agama islam di bedanten yang merupakan keturunan Sunan Drajat dan memiliki hubungan keluarga dengan wilayah Mojokerto. Keberadaan tokoh-tokoh ini memperkuat peran Bedanten sebagai wilayah penting dalam jaringan Islam di Jawa Timur.

 

BAB III Masa Kemerdekaan (Makam, Tradisi, dan Museum Desa Bedanten)

Pada masa kemerdekaan hingga sekarang, Desa Bedanten berupaya menjaga dan melestarikan warisan sejarahnya. Salah satu bentuk pelestarian tersebut adalah perawatan makam-makam tokoh, di Bedanten sediri terdapat 5 makam tokoh pelopor islam salah satunya makam Mbah Sayyid Husaini sebagai pelopor penyebaran Islam di Bedanten.

WhatsApp_Image_2026-01-22_at_18-59-34Makam Mbah Sayyid Husaini memiliki ciri khas berupa tulisan nama pada batu nisan, sementara makam-makam tokoh lain umumnya hanya ditandai dengan simbol-simbol, seperti bunga, tanpa tulisan nama. Keberadaan makam-makam ini menjadi bukti sejarah masuknya Islam dan perkembangan masyarakat Bedanten dari masa ke masa.

Selain makam, pelestarian sejarah juga dilakukan melalui pendirian Museum Desa Bedanten. Museum ini menyimpan berbagai benda bersejarah yang menjadi bukti perjalanan desa, antara lain:

Benda-benda dengan aksara Jawa, Artefak dari Dinasti Ming yang menunjukkan aktivitas perdagangan Benda-benda peninggalan dinasti ming sekitar tahun 1644. Koleksi wayang, yang menunjukkan bahwa Bedanten pernah memiliki seniman wayang. Berbagai benda sejarah yang sebagian besar ditemukan dan diserahkan oleh warga Bedanten disimpan rapi di Museum Bedanten. Museum ini menjadi wadah penting untuk mengumpulkan bukti sejarah yang sebelumnya tersebar dan sulit dilacak, mengingat sumber sejarah Bedanten memang terbatas dan tidak sepenuhnya terdokumentasi sejak awal.

Hingga kini, tradisi keagamaan yang berakar dari dakwah Islam tetap dilestarikan dan dijalankan secara turun-temurun. Tradisi tersebut antara lain pembacaan Surat Waqi’ah setiap malam Rabu setelah Magrib hingga Isya, kajian kitab kuning setiap malam Minggu di mushola setelah Magrib, Istighotsah yang dilaksanakan secara rutin setiap malam Jum’at Legi, serta Haul atau Sedekah Bumi yang diselenggarakan setahun sekali pada hari Jum’at pertama di bulan Sya’ban. Tradisi-tradisi ini mencerminkan kesinambungan ajaran Islam serta kuatnya hubungan antara nilai religius, sosial, dan budaya dalam kehidupan masyarakat Desa Bedanten hingga generasi sekarang.

Penutup

Sejarah Desa Bedanten merupakan rangkaian panjang perjalanan dari masa klasik Hindu-Buddha, masuknya Islam, masa kolonial, hingga masa kemerdekaan. Tokoh Mbah Sayyid Husaini, keberadaan makam-makam tua, serta Museum Desa Bedanten menjadi penanda penting yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Melalui dokumentasi sejarah ini, Desa Bedanten tidak hanya dipahami sebagai wilayah geografis, tetapi juga sebagai ruang sejarah dan memori kolektif masyarakatnya.

 

Sumber: 

Sejarah Desa Bedanten dalam website ini disusun berdasarkan wawancara lisan dengan satu narasumber utama, yaitu Pak Gofar, selaku sekertaris dan Pak Miftah selaku ketua pengurus Museum dan Makam Desa Bedanten. Informasi yang disampaikan merupakan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun dan digunakan sebagai rujukan utama karena keterbatasan sumber tertulis. Narasi ini bersifat terbuka dan dapat dipengaruhi apabila ditemukan data pendukung di masa mendatang.

 

Komentar yang terbit pada artikel "Sejarah Desa Bedanten"

Abd. Ghofar

27 Januari 2026 21:58:13

Ditingkatkan lagi, baca dari koleksi benda museum Madanten dan jadikan sebuah buku supaya generasi mendatang memahami kiprah perjuangan leluhur Bedanten

Kirim Komentar

Nama
Telp./HP
E-mail

Komentar

Captha

Komentar Facebook

Aparatur Desa

Kepala Desa

ABDUL MAJID,S.Pd.I

SEKRETARIS DESA

AHMAD UBAIDAH

KASI PEMERINTAHAN

MASBUHIN, S.PD.I. MM.

KAUR UMUM/TU ADMINISTRASI

ALIYATUS SA'ADAH

KAUR KEUANGAN

MOH IMRON

KASI KESEJAHTERAAN

AINUR ROFIQ

KASI PELAYANAN

SARIROTUN NAQIYAH

Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri
Layanan Mandiri

Desa Bedanten

Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur

Agenda

Belum ada agenda terdata

Sinergi Program

Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini:128
Kemarin:290
Total:60.266
Sistem Operasi:Unknown Platform
IP Address:162.159.114.56
Browser:Mozilla 5.0

Lokasi Kantor Desa

Latitude:-7.055195427994268
Longitude:112.58482217788698

Desa Bedanten, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik - Jawa Timur

Buka Peta

Wilayah Desa